RISET UNGGULAN
Falsafah “Satu Tungku Tiga Batu” Fak-Fak Jadi Model Pendidikan Toleransi Beragama
RINGKASAN EKSEKUTIF
Penelitian ini mengkaji bagaimana pendidikan agama Islam di Kabupaten Fak-Fak memanfaatkan kearifan lokal "Satu Tungku Tiga Batu" — falsafah harmoni tiga agama: Islam, Kristen Protestan, dan Katolik — sebagai instrumen pendidikan toleransi sejak dini. Studi ini menyimpulkan bahwa pengarusutamaan kearifan lokal dalam pengajaran keagamaan mampu menciptakan ketahanan sosial di tengah masyarakat multikultural Papua Barat.
Papua Barat dikenal sebagai wilayah dengan keragaman agama yang tinggi, dan Kabupaten Fak-Fak menjadi salah satu contoh paling khas lewat falsafah lokalnya: “Satu Tungku Tiga Batu” — sebuah metafora yang menggambarkan tiga agama besar (Islam, Kristen Protestan, dan Katolik) sebagai tiga batu penyangga yang menopang satu tungku yang sama, yakni kehidupan bermasyarakat. Penelitian Dr. Indria Nur, mantan Direktur Pascasarjana IAIN Sorong, menelusuri bagaimana falsafah ini secara sengaja diintegrasikan ke dalam praktik pendidikan agama Islam di Fak-Fak.
Kearifan Lokal sebagai Kurikulum Tersembunyi
Alih-alih memisahkan pendidikan agama dari konteks sosial sekitarnya, riset ini menunjukkan bahwa guru dan tokoh agama di Fak-Fak secara aktif menjadikan falsafah Satu Tungku Tiga Batu sebagai semacam “kurikulum tersembunyi” — nilai-nilai toleransi diajarkan bukan sebagai materi terpisah, melainkan tertanam dalam cara peserta didik memahami posisi agamanya di tengah masyarakat yang majemuk sejak usia dini.
Pendekatan ini penting karena toleransi yang diajarkan secara abstrak atau normatif semata seringkali tidak cukup kuat membendung gesekan sosioreligius. Dengan mengakarkan pendidikan toleransi pada falsafah yang sudah hidup dan diyakini bersama oleh masyarakat Fak-Fak lintas agama, pendidikan Islam di wilayah ini memperoleh legitimasi kultural yang lebih kuat dibanding pendekatan toleransi yang diimpor dari luar konteks lokal.
Ketahanan Sosial sebagai Hasil Akhir
Kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa pengarusutamaan kearifan lokal dalam pengajaran keagamaan mampu menciptakan ketahanan sosial (social resilience) dan mereduksi potensi gesekan sosioreligius di tengah masyarakat multikultural Papua Barat — sebuah temuan yang relevan tidak hanya bagi Fak-Fak, tetapi juga bagi daerah-daerah lain di Indonesia Timur dengan pola keragaman agama serupa.
Riset ini menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian Pendidikan Islam Multidisipliner di Program Doktor (S3) PAI IAIN Sorong, khususnya pada tema integrasi kearifan lokal Papua dengan pendidikan agama.
Poin Kunci Riset
- Falsafah "Satu Tungku Tiga Batu" — metafora harmoni tiga agama (Islam, Kristen Protestan, Katolik) di Fak-Fak, Papua Barat.
- Kearifan lokal diintegrasikan sebagai "kurikulum tersembunyi" dalam pendidikan agama Islam, bukan materi toleransi yang terpisah.
- Pendekatan berbasis kearifan lokal dinilai memiliki legitimasi kultural lebih kuat dibanding pendekatan toleransi yang diimpor dari luar konteks.
- Hasil riset: pengarusutamaan kearifan lokal menciptakan ketahanan sosial dan mereduksi gesekan sosioreligius.
- Dipublikasikan di Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, Vol. 14 No. 4.
DETAIL PAPER
Jurnal
Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, Vol. 14 No. 4, h. 6631–6642
Judul Paper Asli
Religious Education Based of Local Wisdom "Satu Tungku Tiga Batu" in Fak-Fak Community West Papua
Penulis
Indria Nur
DOI / ISSN
-
