Opens in a new tab
function updateHeaderHeight() {
        // Get the height of #brx-header
        const headerHeight = document.querySelector('#brx-header').offsetHeight;
          
        // Store the height in the CSS custom property --header-height
        document.documentElement.style.setProperty('--brxw-header-height', headerHeight + 'px');
    }

    // Execute the function as soon as the document is ready
    document.addEventListener('DOMContentLoaded', function() {
        updateHeaderHeight();  // Initial update of header height when the document is ready

        // Update the header height on window resize and orientation change
        window.addEventListener('resize', updateHeaderHeight);
        window.addEventListener('orientationchange', updateHeaderHeight);
});

Sejarah Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kelembagaan induknya. Ia tumbuh dari sebuah sekolah tinggi swasta kecil yang dirintis para veteran dan tokoh masyarakat di Tanah Papua, melewati dua kali perubahan nama, satu kali penegerian, dan satu kali alih status kelembagaan, sebelum akhirnya menjadi penyelenggara pendidikan pascasarjana keislaman satu-satunya di Provinsi Papua Barat Daya. Berikut rekam jejaknya, disusun dari dokumen resmi kelembagaan.

1990: Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Hikmah Sorong

Cikal bakal institusi ini dipelopori oleh Drs. H. Noer Hasjim Gandhi, seorang veteran Tentara Sukarelawan Trikora yang ditugaskan Departemen Agama RI ke Irian Barat pada tahun 1962, bersama Drs. H. Uso, kepala madrasah yang kemudian menjadi MAN Model Sorong. Keduanya membaca satu kebutuhan yang belum terjawab: tersedianya pendidikan tinggi keagamaan Islam bagi masyarakat Muslim di wilayah yang secara demografis merupakan daerah minoritas.

Pada masa awal, STID Al-Hikmah beroperasi selama kurang lebih tiga tahun dengan dukungan tenaga pengajar luar biasa dari Fakultas Syariah IAIN Alauddin Cabang Ambon. Afiliasi akademik ini dikukuhkan melalui Surat Keputusan Yayasan Al-Hikmah Nomor 04/SK/YAH/VI/1990 tertanggal 18 Mei 1990. Legalitas formal kelembagaan sendiri baru diperoleh pada 26 Agustus 1990 dari Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (KOPERTAIS) Wilayah VIII, yang ketika itu dijabat oleh Prof. Dr. Hj. Andi Rosdiyanan. Momentum tersebut dirangkaikan dengan kuliah umum perdana bersama Rektor IAIN Alauddin Ujung Pandang, Prof. Dr. Hj. Rasdiyanah.

Pada fase perdana ini, STID Al-Hikmah mengasuh dua jurusan: Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Status terdaftar secara resmi dikantongi melalui Keputusan Menteri Agama RI Nomor 172 Tahun 1991.

1998: Menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Hikmah

Seiring meluasnya cakupan keilmuan yang diselenggarakan, pada 1 Oktober 1998 nama lembaga berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah Sorong berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor E/314/1998. Perubahan ini berlangsung di bawah kepemimpinan Drs. H. Uso, dan menandai pergeseran orientasi dari sekolah tinggi berbasis dakwah menuju lembaga pendidikan tinggi agama Islam yang lebih luas.

2006: Penegerian menjadi STAIN Sorong

Tonggak terbesar pertama terjadi pada 20 Juli 2006 M (bertepatan dengan 25 Jumadil Akhir 1427 H), ketika status lembaga beralih dari swasta menjadi negeri melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2006. Sejak saat itu institusi resmi bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong. Tanggal inilah yang hingga kini diperingati sebagai Dies Natalis IAIN Sorong setiap 20 Juli.

Kepemimpinan STAIN Sorong sepanjang 2006 hingga 2020 berturut-turut dipegang oleh: Dr. H. Saifuddin, M.A. sebagai Pejabat Sementara (2006–2007) yang kemudian dilantik definitif untuk periode 2007–2011 dan wafat sebelum masa jabatannya berakhir; Dr. Muhammad Yusuf, M.Ag. selaku Pembantu Ketua III yang menjabat sebagai Pejabat Sementara hingga pemilihan ketua definitif pada Maret 2012; Prof. Dr. H. Abustani Ilyas, M.Ag. untuk periode 2012–2016; dan Dr. Hamzah, M.Ag. untuk periode 2016–2020.

2015: Lahirnya Pascasarjana dan Program Magister PAI

Program Pascasarjana dirintis dan dibuka pada tahun 2015, ketika institusi masih berstatus STAIN Sorong. Penyelenggaraan Program Studi Magister (S2) Pendidikan Agama Islam didasarkan pada Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Nomor 4803 Tahun 2015.

Sejak awal, Prodi Magister PAI mengusung distingsi Kepemimpinan Transformatif — satu-satunya konsentrasi sejenis di lingkungan PTKIN — dengan orientasi mencetak pendidik, peneliti, dan pengelola lembaga pendidikan Islam yang mampu menggerakkan perubahan mutu. Lulusan berhak menyandang gelar Magister Pendidikan (M.Pd.). Tiga tahun setelah dibuka, pada 2018, Pascasarjana mewisuda lulusan angkatan pertamanya.

2020: Alih Status menjadi IAIN Sorong

Persiapan alih status kelembagaan dimulai sejak 2017 melalui pembentukan Tim Alih Status oleh Ketua STAIN saat itu, Dr. Hamzah, M.Ag. Upaya tersebut berbuah pada 28 Februari 2020 (4 Rajab 1441 H) ketika terbit Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2020 yang menetapkan perubahan STAIN Sorong menjadi Institut Agama Islam Negeri Sorong.

Dr. Hamzah, M.Ag. kemudian dilantik sebagai Rektor IAIN Sorong yang pertama pada 1 April 2020, berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 005520/B.II/3/2020 tertanggal 30 Maret 2020. Alih status ini memperluas ruang gerak kelembagaan sekaligus membuka jalan bagi pengembangan program pascasarjana ke jenjang yang lebih tinggi.

2021–2023: Naik Kelas dari “C” ke “Baik Sekali”

Perjalanan mutu Prodi Magister PAI tidak berlangsung mulus. Melalui Keputusan BAN-PT Nomor 9569/SK/BAN-PT/Ak-PNB/M/VII/2021 yang diterbitkan pada 21 Juli 2021, prodi ini menyandang peringkat Akreditasi C yang berlaku surut sejak 28 Februari 2020 sampai dengan 24 Oktober 2022.

Perbaikan dilakukan secara terstruktur menjelang berakhirnya masa berlaku tersebut. Asesmen lapangan oleh asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) dikawal langsung oleh Direktur Pascasarjana kala itu, Dr. Indria Nur, M.Pd.I. Hasilnya, pada tahun 2022 Prodi Magister PAI berhasil naik peringkat menjadi “Baik Sekali”, yang disahkan melalui SK LAM Kependidikan Nomor 109/SK/LAMDIK/Ak/M/I/2023. Capaian itu disyukuri lewat acara silaturahmi sekaligus Focus Group Discussion bersama Pemerintah Daerah dan Kementerian Agama pada Rabu, 25 Januari 2023.

2025: Pembukaan Program Doktor (S3) PAI

Setelah penantian panjang, usulan pembukaan program doktor memasuki tahap penentu ketika Tim Visitor Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI melaksanakan asesmen lapangan pada Kamis, 20 Februari 2025. Rektor IAIN Sorong, Dr. Suparto Iribaram, S.Sos., M.A., menyambut langsung kedua evaluator di kampus.

Izin penyelenggaraan akhirnya terbit melalui Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 832 Tahun 2025 tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Agama Islam untuk Program Doktor pada IAIN Sorong. Sebagai tindak lanjut, Rektor menetapkan SK Nomor 342 Tahun 2025 tentang Penetapan Dosen Pengajar Mata Kuliah Program Doktor semester ganjil T.A. 2025/2026, dan SK Nomor 343 Tahun 2025 tentang Home Base Dosen Program Doktor yang ditetapkan pada 7 Oktober 2025.

Rangkaian akademik perdana bagi angkatan pertama dibuka dengan matrikulasi daring pada 3–4 Oktober 2025. Program Doktor PAI dijalankan di bawah Rektor Dr. Suparto Iribaram, S.Sos., M.A., Direktur Pascasarjana Dr. Bambang Sunatar, S.E., M.M., dan Ketua Program Studi Drs. Hasbullah, M.Pd., Ph.D. Kurikulumnya berbobot 45 SKS, terdiri atas beban mata kuliah non-disertasi yang tidak kurang dari 30 SKS dan disertasi sebesar 15 SKS. Sesuai KMA 832 Tahun 2025, prodi baru ini wajib mengajukan usulan akreditasi sementara kepada LAMDIK paling lambat enam semester sejak keputusan menteri ditetapkan.

Direktur Pascasarjana dari Masa ke Masa

Dokumen kelembagaan mencatat dua nama Direktur Pascasarjana. Dr. Indria Nur, M.Pd.I. tercatat aktif menjabat pada kisaran 2022–2023 dan mengawal transisi akreditasi Prodi Magister PAI dari peringkat C menuju “Baik Sekali”. Berikutnya, Dr. Bambang Sunatar, S.E., M.M. memimpin Pascasarjana hingga saat ini — menutup matrikulasi Program Doktor pada Oktober 2025, merumuskan draf mutu kurikulum doktoral, mengawal sosialisasi penerimaan mahasiswa baru, serta memimpin yudisium kelulusan. Nama Direktur Pascasarjana pada masa perintisan tahun 2015 tidak tercantum di dalam dokumen yang tersedia.

Ekosistem Akademik yang Tumbuh

Sejalan dengan pertumbuhan kelembagaan, Pascasarjana membangun ekosistem publikasi ilmiahnya sendiri. Transformasi: Jurnal Kepemimpinan dan Pendidikan Islam terbit dua kali setahun pada Juni dan Desember, dengan P-ISSN 2614-8463 dan E-ISSN 2615-3734, dipimpin oleh Dr. Bambang Sunatar, S.E., M.M. selaku Editor-in-Chief. Jurnal kedua, TIFA: Journal of Integrated Islamic Knowledge and Education, menerbitkan volume perdananya (Vol. 1 No. 1) pada 30 April 2026 dengan fokus mengintegrasikan kajian Islam, kearifan lokal, dan ekologi Papua.

Dari sisi fasilitas, perkuliahan berpusat di Gedung Pascasarjana yang memiliki dua ruang kuliah, ruang Ketua Program Studi S3, ruang administrasi, ruang rapat, ruang direktur, ruang tamu direktur, ruang teleconference, laboratorium, dan perpustakaan. Sejak 14 Mei 2024, layanan perpustakaan kampus menempati Gedung Perpustakaan Digital SBSN berlantai tiga di depan Fakultas Tarbiyah; lantai duanya kerap dimanfaatkan Pascasarjana untuk yudisium, syukuran akreditasi, dan seminar ilmiah.

Jejaring kelembagaan juga diperluas. Untuk menjaga mutu pengajaran program doktor yang masih baru, Pascasarjana bermitra dengan UIN Alauddin Makassar, UIN Palopo, dan UIN Jember. Kerja sama dengan pemerintah daerah dijalin antara lain melalui audiensi bersama Bupati Kabupaten Raja Ampat, Orideko Iriano Burdam, M.M., M.Ec.Dev., pada 22 Juli 2025 untuk penugasan belajar guru dan aparatur sipil negara daerah.

Dampaknya terbaca pada lulusan. Survei penelusuran alumni mencatat 82,6% alumni bekerja linier dengan rumpun keilmuan yang ditempuh. Salah satu nama yang menonjol adalah Chairul Anwar Saputra, S.Pd.I., lulusan terbaik Pascasarjana pada 2026 dengan riset tesis mengenai pengembangan media pembelajaran berbasis aplikasi Moodle.

Jejak Para Perintis

Dokumentasi sejarah Pascasarjana IAIN Sorong

Berdirinya STID Al-Hikmah pada 1990 tidak lepas dari semangat para veteran Trikora yang menetap di Sorong pasca-integrasi Irian Barat. Drs. H. Noer Hasjim Gandhi, yang ditugaskan Departemen Agama RI sebagai Tentara Sukarelawan Trikora sejak 1962, melihat kebutuhan mendesak akan pendidikan tinggi Islam di kawasan yang saat itu masih sangat terbatas akses pendidikan keagamaan formalnya.

Bersama Drs. H. Uso, kepala madrasah yang kelak menjadi MAN Model Sorong, keduanya merintis yayasan dan lembaga pendidikan nyaris dari nol. Modal utamanya bukan gedung atau anggaran, melainkan komitmen dan jejaring: dukungan tenaga pengajar luar biasa dari Fakultas Syariah IAIN Alauddin Cabang Ambon, pengakuan KOPERTAIS Wilayah VIII pada 26 Agustus 1990, hingga status terdaftar melalui Keputusan Menteri Agama RI Nomor 172 Tahun 1991.

Dua jurusan pertama yang dibuka — Bimbingan Penyuluhan Islam dan Komunikasi Penyiaran Islam — mencerminkan kebutuhan zaman itu: menyiapkan tenaga dakwah dan penyuluh yang memahami konteks masyarakat setempat. Dari fondasi sederhana inilah rantai kelembagaan bergerak: STAI Al-Hikmah pada 1998, STAIN Sorong pada 2006, IAIN Sorong pada 2020, dan Pascasarjana yang kini menyelenggarakan dua jenjang studi lanjut.

Semangat generasi perintis itulah yang terus dirawat lewat semboyan kelembagaan “The New Spirit – Kitorang Punya”: rasa kepemilikan bersama dan tanggung jawab kolektif dalam membangun pendidikan Islam di Tanah Papua.

Dari STAIN Menuju Universitas

Alih status dari STAIN menjadi IAIN pada 2020 bukan titik akhir, melainkan awal babak baru. Rencana Strategis IAIN Sorong 2024–2028, yang disahkan melalui Keputusan Rektor Nomor 373 Tahun 2025, menetapkan arah kebijakan lanjutan: transformasi kelembagaan menuju universitas negeri serta penetapan status Badan Layanan Umum (BLU). Target menjadi Universitas Islam Negeri sendiri tercatat pada dokumen Renstra periode sebelumnya, 2020–2024.

Pembangunan fisik berjalan seiring. Renstra 2024–2028 mencantumkan target perluasan lahan kampus terpadu berbasis ekoedureligi dari 9,5 hektar menjadi sekitar 18 hektar, melanjutkan penambahan fasilitas yang sudah berjalan seperti Gedung Perpustakaan Digital SBSN yang mulai melayani pemustaka pada Mei 2024.

Pascasarjana menjadi salah satu lokomotif transformasi tersebut. Dari satu program studi Magister pada 2015, kini berkembang menjadi dua jenjang dengan distingsi ganda: Kepemimpinan Transformatif untuk Magister dan riset berbasis kearifan lokal Papua (Papualogi) untuk Doktor, disokong kemitraan bersama UIN Alauddin Makassar, UIN Palopo, dan UIN Jember.

Perjalanan lebih dari tiga dekade sejak 1990 ini menegaskan satu benang merah yang konsisten: komitmen mencetak sumber daya manusia unggul yang berakar pada keislaman, keindonesiaan, dan kepapuaan sekaligus — sebuah ikhtiar yang dimulai dua orang perintis dan kini dilanjutkan oleh sebuah institut negeri dengan program doktor di dalamnya.

Kampus IAIN Sorong tampak udara

Visi, Misi, dan Arah Keilmuan

Sepanjang perjalanannya, Pascasarjana IAIN Sorong merumuskan arah keilmuan yang ringkas namun tegas. Visinya adalah “Intelek & Moderat” — dua kata yang menautkan kedalaman akademik dengan sikap keberagamaan yang terbuka, sebuah pilihan yang relevan bagi wilayah dengan komposisi sosial semajemuk Papua Barat Daya.

Visi itu diterjemahkan ke dalam tiga misi. Pertama, menyelenggarakan pendidikan secara profesional, efektif, dan efisien serta responsif dalam menjawab tantangan dan dinamika zaman, dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal berdasarkan paradigma wahyu. Kedua, menyelenggarakan kegiatan penelitian pendidikan untuk menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya yang memberdayakan individu dan masyarakat, mendukung pembangunan daerah dan nasional, serta berkontribusi pada pemecahan masalah regional. Ketiga, menyelenggarakan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat berdasarkan hasil kajian dan penerapan penelitian ilmu-ilmu keislaman, sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral akademik terhadap persoalan keumatan, kepapuaan, dan kebangsaan.

Pada tataran program studi, Prodi Doktor PAI menegaskan arahnya sendiri melalui visi “Menjadi Pusat Unggulan Doktor PAI yang Unggul, Berkarakter, dan Berdaya Saing dalam Pengembangan Riset Pendidikan Berbasis Integrasi Keislaman, Teknologi, dan Kearifan Lokal Papua di Tingkat Nasional pada tahun 2030”. Rumusan ini menjadikan konteks Papua bukan sekadar latar geografis, melainkan basis epistemologis riset.

Perkembangan Peminat

Minat masyarakat terhadap kedua jenjang terus tumbuh. Hingga pertengahan Juli 2026, tercatat enam calon mahasiswa Program Doktor telah merampungkan pendaftaran daring, sementara pendaftar Program Magister melampaui sepuluh orang. Pada pelaksanaan seleksi tertulis dan wawancara Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027 yang digelar 26 Agustus 2026, seleksi diikuti 25 calon mahasiswa Magister dan 10 calon mahasiswa Doktor yang lolos seleksi berkas administrasi. Angka-angka ini menjadi penanda bahwa kehadiran program pascasarjana keislaman di Papua Barat Daya menjawab kebutuhan nyata, bukan sekadar melengkapi struktur kelembagaan.