Opens in a new tab
function updateHeaderHeight() {
        // Get the height of #brx-header
        const headerHeight = document.querySelector('#brx-header').offsetHeight;
          
        // Store the height in the CSS custom property --header-height
        document.documentElement.style.setProperty('--brxw-header-height', headerHeight + 'px');
    }

    // Execute the function as soon as the document is ready
    document.addEventListener('DOMContentLoaded', function() {
        updateHeaderHeight();  // Initial update of header height when the document is ready

        // Update the header height on window resize and orientation change
        window.addEventListener('resize', updateHeaderHeight);
        window.addEventListener('orientationchange', updateHeaderHeight);
});

Pendidikan Agama Islam dan Penguatan Nasionalisme Religius pada Peserta Didik

August 20, 2026•Pascasarjana IAIN Sorong

Cinta tanah air dan keimanan sering kali dipandang sebagai dua hal yang terpisah, padahal dalam ajaran Islam keduanya dapat berjalan beriringan secara harmonis. Konsep nasionalisme religius menegaskan bahwa mencintai bangsa dan negara bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan keimanan, melainkan bagian dari perwujudan iman itu sendiri. Dalam konteks inilah Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis untuk menanamkan pemahaman bahwa nasionalisme dan religiusitas bukan dua kutub yang saling bertolak belakang, melainkan dua nilai yang saling menguatkan dalam membentuk jati diri generasi muda Indonesia.

Memahami Konsep Nasionalisme Religius

Nasionalisme religius dapat dipahami sebagai sikap cinta tanah air yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan, di mana semangat kebangsaan tidak dipertentangkan dengan keyakinan agama, melainkan justru diperkuat olehnya. Dalam sejarah Islam, terdapat kaidah fikih yang menyatakan hubbul wathan minal iman, yang meskipun keautentikannya sebagai hadis diperdebatkan oleh para ulama, secara substansi mengandung pesan bahwa mencintai tanah air merupakan bagian dari kesadaran keimanan seorang muslim.

Para ulama dan tokoh pendiri bangsa Indonesia sendiri telah memberikan teladan nyata mengenai harmonisasi antara nilai keislaman dan semangat kebangsaan. Resolusi Jihad yang dicetuskan pada masa perjuangan kemerdekaan, misalnya, menjadi bukti sejarah bahwa umat Islam Indonesia memandang perjuangan mempertahankan kemerdekaan sebagai bagian dari kewajiban keagamaan. Nilai-nilai inilah yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda melalui jalur pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam.

Peran PAI dalam Menumbuhkan Nasionalisme Religius

Pendidikan Agama Islam memiliki posisi strategis untuk menanamkan nilai nasionalisme religius karena materi-materi yang diajarkan, seperti sejarah kebudayaan Islam, akidah akhlak, maupun fikih, dapat dikaitkan secara kontekstual dengan semangat cinta tanah air. Misalnya, ketika membahas materi sejarah kebudayaan Islam di Nusantara, guru dapat mengaitkannya dengan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sehingga peserta didik memahami bahwa Islam dan keindonesiaan memiliki keterkaitan historis yang kuat dan tidak dapat dipisahkan.

Selain itu, materi akidah akhlak dapat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab sosial, kepedulian terhadap sesama, dan ketaatan pada aturan yang berlaku, yang pada dasarnya merupakan wujud konkret dari sikap cinta tanah air. Dengan pendekatan ini, peserta didik diajak memahami bahwa menjadi warga negara yang baik dan menjadi seorang muslim yang taat bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling melengkapi.

Strategi Penguatan Nasionalisme Religius di Sekolah

Terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk memperkuat nasionalisme religius melalui pembelajaran PAI. Pertama, mengintegrasikan kisah-kisah keteladanan pahlawan nasional yang memiliki latar belakang keislaman kuat ke dalam materi pembelajaran, sehingga peserta didik memiliki figur inspiratif yang mencontohkan harmoni antara keimanan dan kebangsaan. Kedua, mengadakan kegiatan peringatan hari besar nasional yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman, misalnya doa bersama dan renungan kebangsaan pada peringatan Hari Kemerdekaan, sehingga peserta didik merasakan langsung penghayatan nilai-nilai tersebut.

Ketiga, mendorong peserta didik untuk aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang mencerminkan kepedulian terhadap sesama warga negara, seperti bakti sosial, gotong royong, dan kegiatan kemanusiaan lainnya, sebagai wujud nyata dari nilai-nilai keislaman yang berdimensi sosial dan kebangsaan. Keempat, penguatan wawasan kebangsaan bagi guru PAI itu sendiri melalui pelatihan dan diskusi keilmuan, agar guru mampu menyampaikan materi keagamaan dengan perspektif kebangsaan yang moderat dan inklusif.

Peran Program Studi Pendidikan Agama Islam

Program Studi Pendidikan Agama Islam memiliki tanggung jawab penting dalam membekali mahasiswa dengan wawasan kebangsaan yang kuat, sejalan dengan penguasaan ilmu keislaman yang mendalam. Kurikulum program studi perlu memuat kajian tentang sejarah perjuangan umat Islam Indonesia, hubungan Islam dan negara, serta nilai-nilai Pancasila dalam perspektif Islam, sehingga mahasiswa memiliki pemahaman yang utuh mengenai relasi harmonis antara keislaman dan keindonesiaan.

Selain itu, kegiatan kemahasiswaan yang mengedepankan semangat kebangsaan dan keislaman secara bersamaan, seperti diskusi lintas organisasi, kegiatan pengabdian masyarakat, dan peringatan hari-hari nasional, perlu terus digalakkan di lingkungan kampus. Dengan demikian, lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa nasionalisme religius yang kokoh, sehingga mampu menularkan semangat tersebut kepada peserta didik di masa mendatang.

Penutup

Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting dalam menumbuhkan nasionalisme religius, yaitu sikap cinta tanah air yang dilandasi oleh nilai-nilai keimanan. Melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis keteladanan, PAI dapat menjadi wahana efektif untuk menanamkan pemahaman bahwa keislaman dan keindonesiaan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan. Program Studi Pendidikan Agama Islam, sebagai pencetak generasi pendidik masa depan, memiliki peran kunci dalam memastikan nilai-nilai nasionalisme religius tertanam kuat dalam diri mahasiswa sebagai calon guru yang akan membentuk karakter generasi penerus bangsa.

PROGRAM STUDI

Magister (S2) PAI

Distingsi Kepemimpinan Transformatif untuk pendidik dan calon pemimpin pendidikan Islam.

Lihat Program →

PROGRAM STUDI

Doktor (S3) PAI

Distingsi Papualogi, kajian keilmuan kontekstual budaya dan masyarakat Papua.

Lihat Program →

PPID Pascasarjana

Layanan keterbukaan informasi publik. Ajukan permohonan atau lihat dokumen resmi.

Kunjungi PPID →